Keluarga Yang Berkenan di Hati Tuhan

KELUARGA YANG BERKENAN DI HATI TUHAN 
Efesus 5:22-6:9


Berdasarkan survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga di luar negeri, seperti Barna Group dan lembaga lainnya, ada banyak kekerasan dan tidak sedikit perceraian terjadi di tengah-tengah keluarga Kristen. Hasil survei Barna Group menunjukkan bahwa ada 33% keluarga Kristen dari berbagai denominasi mengalami perceraian (jumlah responden: 3792). Meskipun survei tersebut dilakukan di Amerika dan Eropa, bukan berarti keluarga Kristen di Asia tidak memiliki masalah. 

Di dalam Efesus 5-6, Rasul Paulus menasehatkan setiap keluarga yang telah percaya pada Tuhan untuk hidup sebagai keluarga yang berkenan di hadapan Allah. Dengan mempertahankan model aturan rumah tangga pada masa tersebut. Rasul Paulus memberikan nasihat sebagai berikut:

1. Relasi seorang Istri dan Suami seharusnya mencerminkan relasi antara Kristus dengan jemaat-Nya (Ef. 5:22-33). Hubungan istri-suami haruslah berdasarkan perjanjian (covenant) yang dilakukan di hadapan Allah. Ef. 5:31 memberikan pencerahan di mana seorang suami meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya (pada masa itu seorang pria tidak meninggalkan orang tuanya, tetapi wanitalah yang akan meninggalkan orang tuanya) merujuk pada seseorang yang sedang memulai perjanjian baru terhadap seseorang (suami terhadap istri). Oleh karena itulah, seorang istri diperintahkan untuk tunduk kepada suami sebagaimana jemaat tunduk (berbeda dari pernikahan Romawi dan Yunani) kepada Kristus (5:22-24, 33). Seorang suami diperintahkan untuk mengasihi istrinya sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus kepada jemaat-Nya (5:25-29, 33). 

2. Relasi antara anak dan orang tua seharusnya dilandasi oleh kebenaran Firman Tuhan (6:1-4). Untuk menjadi keluarga yang berkenan di hadapan Allah, seorang anak diperintahkan untuk taat kepada ayahnya; bukan karena takut tetapi karena menghormatinya sebagai wakil Allah (6:1-2). Dengan melakukan hal tersebut, seorang anak telah melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah di dalam Firman-Nya (6:3). Orang tua juga diperintahkan untuk membimbing anak dalam keluarnya dengan Firman Tuhan, bukan amarah ataupun kekuatannya sendiri (6:4). Hal ini tentunya berbeda dengan pandangan masyarakat pada masa itu di mana orang tua (khususnya ayah) dapat melakukan apapun terhadap anaknya dalam proses pendidikan kepada anak tersebut.  

3. Relasi antara hamba dan tuan seharusnya didorong oleh ketundukan kepada Kristus (6:5-9). Seorang tuan Kristen tidaklah mengekploitasi hambanya, demikian pula seorang hamba tidak melayani untuk mencari muka tuannya (6:6, 9). Baik tuan maupun hamba diharapkan untuk sadar bahwa mereka berada di bawah kekuasaan Tuhan yang berlaku adil kepada semua orang. Dengan demikian, tuan haruslah memperlakukan hamba dengan baik dan seorang hamba haruslah menghormati tuannya seperti menghormati Kristus.Beberapa nasihat Paulus dalam Efesus 5-6 tersebut tidak hanya bermanfaat bagi umat Tuhan pada masa itu, tetapi juga bagi kita di era modern ini. Dengan melakukannya kita sedang belajar untuk menjadi keluarga yang berkenan di hadapan Allah.



Map