Ringkasan Khotbah, 10 April 2016

DEWASA DALAM PERKATAAN

Bilangan 22:1-20



Ada kisah menarik tentang Balak dan Bileam. Balak adalah raja negeri Moab. Bileam adalah seorang juru tenung/dukun yg hebat, dimana apa yang dia katakan sering terjadi. Ketika Balak, ketakutan menghadapi bangsa Israel, maka Balak memangil  Bileam sang dukun ini, dengan pesan untuk mengutuki bangsa Israel. Tetapi Tuhan berkata: “jangan engkau mengutuki bangsa Israel, karena bangsa itu adalah bangsa yang Aku berkati. Bileam taat tidak berani mengutuki bangsa Israel. Tetapi Balak terus berusaha untuk mempengaruhi Bileam dengan janji-janjinya. Namun dengan tegas Bileam menjawab: “Sekalipun Raja Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku.” (Bil 22:18). Sesungguhnya apa ukuran kedewasaan orang dalam berkata-kata ? Dari kisah Balak dan Bileam ini, kita belajar  3 ukuran kedewasaan orang dalam berkata-kata :

1.    Berkata-katalah  sesuai dengan firman Tuhan. Spt Bileam tidak berani mengatakan hal-hal diluar firman Tuhan, apa yang Tuhan katakan, itulah yang dia sampaikan. Bgmkah dengan kita, apakah setiap kali kita berbicara, harus keluar ayat firman Tuhan dari mulut kita ? Tentunya tidak harus demikian. Yang terpenting adalah bagaimana perkataan kita itu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh firman Tuhan. Contoh : Firman Tuhan di dalam Kolose 3:8 berkata : “…buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” (Kol 3:8), lewat firman Tuhan ini, maka kita mengerti, bahwa Tuhan menghendaki agar kita dapat mengontrol  perkataan kita dikala kita sedang marah, jangan sampai kata-kata kita kasar dan menusuk hati org yang sedang kita marahi.

2.    Miliki hati yang takut akan Tuhan. Bila kita punya hati yang takut akan Tuhan, maka kita akan berhati-hati dalam berbicara. Bileam, walaupun dia seorang juru tenung/dukun, tetapi dia memiliki hati yang takut akan Tuhan, shg tidak berani melanggar perintah Tuhan, dimana Tuhan berkata: “jangan sekali-kali engkau mengutuki Israel krn bangsa itu Aku berkati”,  Bileam tidak berani mengutuki.  Jadi hati yang takut akan Tuhan itu, adalah modal utama untuk kita memiliki perkataan yang dewasa. Mengapa demikian ? Karena pada umumnya kalau orang takut Tuhan, dia tidak akan berani berbicaranya sembarangan, dia selalu memikirkan apakah perkataannya sudah benar,  apakah perkataannya mengecewakan atau menyenang kan sesamanya.

3.    Berhati-hatilah berbicara, terlebih kepada orang yang diberkati oleh Tuhan.. Bileam tidak berani untuk mengutuki orang Israel, karena dia tahu bahwa orang Israel ini bangsa yang diberkati Tuhan. Berbicara ttg siapa yang diberkati Tuhan,  Apakah hanya bangsa Israel yang diberkati Tuhan ? Tidak, tetapi semua bangsa di muka bumi, secara khusus orang-orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat, merekalah orang-orang yang diberkati oleh Tuhan. Firman Tuhan di dalam Galatia 3:9 berkata: “Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.” Mereka yang beriman, beriman kepada siapa ? Iman kepada Tuhan Yesus. Mereka yang beriman kpd Tuhan Yesus, adalah orang yang diberkati oleh Tuhan. Itulah sebabnya berhati-hatilah bila kita berbicara tentang saudara seiman
kita.

Ringkasan Khotbah Minggu, 10 April 2016 oleh Pdt. Djoni Febrianto

Map