Ringkasan Khotbah Minggu, 29 Pebruari 2016

MENGASIHI SECARA KONSISTEN

 

    Kita tahu bahwa kita harus mengasihi istri. Masalahnya adalah tidak selalu kita berhasil melakukannya dengan konsisten. Pada umumnya kita masih merasakan kasih di awal pernikahan namun seiring dengan berjalannya waktu kita mulai kehilangan kasih.
Berikut akan dipaparkan beberapa nasihat untuk mengasihi secara konsisten :

1.    Untuk dapat mengasihi dengan konsisten, pertama kita mesti memahami kasih itu sendiri. KASIH MERUPAKAN SEJUMLAH PERASAAN YANG TERGABUNG MENJADI SATU DAN LAHIR DARI SEJUMLAH FAKTOR YANG SALING TERKAIT. Di dalam 1 Korintus 13:4-7, kasih dijabarkan lewat pelbagai perasaan dan tindakan, yaitu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak  memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan  sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena  ketidakadilan, menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Itu sebabnya seyogianya kasih dapat bertahan untuk waktu yang lama sebab kasih berdiri di atas sejumlah perasaan dan perbuatan, bukan di atas satu perasaan dan perbuatan saja. Bila kasih berdiri di atas satu perasaan dan perbuatan saja, maka dengan mudah kasih akan runtuh bila satu fondasi itu retak.

2.    Kunci mengasihi adalah kekonsistenan. Pada umumnya kita hanya melakukan perbuatan-perbuatan kasih di awal pernikahan dan gagal meneruskannya setelah menikah untuk kurun yang lama. Mungkin kita beranggapan bahwa hal-hal seperti ini tidaklah penting lagi dan pasangan kita pun tidak lagi membutuhkannya. Begitu kita mulai menghentikannya, maka kasih mulai surut. Masalahnya adalah begitu kasih mulai surut, sebenarnya relasi nikah mulai mengering. Alhasil, relasi menjadi ranting kering yang mudah tersulut api. Sedikit kesalahpahaman pastilah memercikkan api pertengkaran. Makin sering terbakar pertengkaran, makin termakan habislah kasih itu.

3.    Mengasihi istri berarti menikmati istri dan kita dapat menikmati istri lewat berbagai cara. Misalnya kita dapat mengajak istri pergi bersama, berjalan pagi bersama, bercengkerama bersama, bernyanyi bersama, bermain bersama dan merayakan cinta bersama. Jika kita tidak menikmati istri, mustahil kita masih mengasihi istri. Lakukanlah hal-hal yang membawa kenikmatan bersama dan berilah diri untuk dinikmati.

4.    Mengasihi istri sama dengan mengutamakannya. Sudah tentu adalah wajar memunyai teman pria maupun wanita namun khusus teman wanita, kita tidak bisa menjalin pertemanan akrab dengan teman wanita. Pertemanan akrab dengan teman wanita niscaya menyedot perhatian yang seyogianya  diberikan kepada istri sendiri. Juga, pertemanan akrab acap kali membuka pintu berseminya perasaan suka dan tertarik kepada sang sahabat. Itu sebabnya kita mesti mengambil keputusan jelas dan tegas.

5.    Mengasihi istri harus dilandasi atas penerimaan penuh. Kebanyakan wanita memiliki keraguan atas dirinya, terutama pada saat menua. Istri mulai bertanya-tanya apakah kita masih mencintainya karena penurunan penampilan dan fungsi fisiknya. Sebagai contoh, setelah mati haid dan berhentinya produksi hormon estrogen, maka mulai terganggulah daya ingat sehingga mulai seringlah terjadi pelupaan. Singkat kata, inilah saat di mana kita mencurahkan perhatian dan
penerimaan atas dirinya. Jangan sampai kita mengkritiknya dan jangan sampai keluar perkataan yang menghinanya.

Map