Ringkasan Kotbah 29 Maret 2015

Berkat Tuhan Dalam Keluarga

Mazmur 127

 

Sebuah keluarga hanya bisa menjadi berkat bagi orang lain dan gereja apabila
keluarga tersebut menyadari bahwa semua yang mereka miliki adalah berkat Tuhan. Dengan kata lain, sebelum memberkati orang lain, sebuah keluarga harus diberkati lebih dahulu. Kotbah minggu ini akan membahas betapa berkat Tuhan merupakan
pusat dan dasar bagi sebuah keluarga. 

Tangan Tuhan dalam segala yang dilakukan (ayat 1-2)
Inti ayat 1-2 terlihat dari pengulangan kata “sia-sia” yang muncul 3 kali. Pemazmur ingin menyatakan tentang betapa pentingnya Tuhan dalam segala hal. Hal-hal apa
 saja yang disinggung pemazmur dalam bagian ini?

1.    Kesia-siaan pembangunan rumah tanpa Tuhan (ayat 1a). Kata Ibrani “rumah” (bayit) bisa merujuk pada istana (rumah raja), bait Allah (rumah Tuhan), gedung (rumah secara fisik) maupun rumah tangga/keturunan. Dalam konteks Mazmur 127, arti yang terakhir ini tampaknya yang paling tepat, yaitu RUMAH TANGGA. Ayat 3-5 berbicara tentang sebuah keluarga/keturunan. Pemazmur juga menggunakan permainan bunyi untuk menunjukkan bahwa rumah di ayat 1 adalah keluarga/keturunan di ayat 3-5, yaitu kata “membangun” (banah) dan “anak-anak laki-laki” (banim).

2.    Kesia-siaan mengawal kota tanpa Tuhan (ayat 1b). Pada jaman dahulu keamanan sebuah kota ditentukan oleh dinding kota yang kuat, menara pengawal yang tinggi, tentara yang besar jumlahnya dan letak suatu kota yang berada di daerah pegunungan. Dari semua kriteria ini, kota Yerusalem bisa dianggap sebagai kota yang paling ideal. Kota ini terletak di pegunungan Yudea dan memiliki menara pengawal. Salomo, penulis Mazmur 127, juga memiliki banyak kapal, perisai, kuda dan penunggangnya. Walaupun memiliki semua yang diperlukan untuk menjamin keamanan suatu kota, Salomo tetap menyadari pentingnya tangan Tuhan di dalamnya, karena Tuhan adalah penjaga sesungguhnya yang menciptakan langit dan bumi serta tidak pernah lengah.

3.    Kesia-siaan kerja keras tanpa Tuhan (ayat 2). Bangsa Israel sangat paham bahwa keberhasilan pekerjaan mereka (pertanian) sangat ditentukan oleh ketaatan mereka kepada Tuhan. Kalau mereka tidak taat, Tuhan akan mengirimkan mengirimkan bangsa lain untuk menjajah dan merampas hasil pertanian mereka. Tuhan akan membuat tanah yang ditanami menjadi tidak subur. Tuhan juga akan mengirim hama tertentu untuk menghabiskan hasil panen mereka. Bangsa-bangsa kafir kuno juga menyadari pentingnya campur tangan dewa/dewi tertentu dalam keberhasilan panen mereka. Tidak heran, hampir setiap bangsa waktu itu memiliki dewa/dewi kesuburan
masing-masing.
   
Aplikasi
Melalui kotbah kali ini, biarlah setiap kita menyadari betapa perlunya kita bergantung kepada Tuhan dalam segala sesuatu. Semua yang kita miliki adalah berkat Tuhan semata-mata, baik itu keluarga, keamanan, hasil pekerjaan maupun anak-anak. Semua bukan milik kita, tetapi pemberian Tuhan. Biarlah kita juga menggunakan semua berkat itu untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Sudahkah Saudara memberikan tenaga, waktu, pikiran dan materi yang terbaik untuk Tuhan?

Ringkasan Kotbah 29 Maret 2015 oleh Ls. Herman Napitupulu

Map