Ringkasan Kotbah 08 Pebruari 2015

YOHANES. 6: 60-71

 SETIA SEPERTI KRISTUS

Yesus merupakan satu-satunya tokoh yang menjadi teladan dalam kesetiaan. Kesetiaan Tuhan Yesus terbukti mulai dari awal datang ke dunia melayani, mati, bangkit dan naik ke Surga. Kesetiaan-Nya pun masih kita rasakan sampai saat ini. Sebagai Murid Yesus pun kita dituntut untuk meneladani kesetiaan Yesus Kristus.

Dari teks Firman Tuhan yang sudah dibaca, kita bersama-sama belajar dari kesetiaan yang ditunjukkan oleh para murid. Adapan pun dua jenis kesetiaan yang akan kita pelajari bersama:

1.    Kesetiaan Sementara
Para murid mengikut Tuhan Yesus dalam jumlah yang banyak, mereka selalu mencari Yesus. Terlepas dari motivasi mereka dalam mengikut Tuhan Yesus, apakah karena hal-hal yang telah Yesus lakukan dalam pasal sebelumnya atau karena mereka setia kepada Tuhan Yesus. Kesetiaan para murid di uji ketika Yesus memberikan pengajaran tentang bagaimana menjadi murid yang sejati. Mereka harus makan dan minum tubuh dan darah Kristus yang telah datang ke dunia. Yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah menyatu dalam penderitaan dan kesusahan-Nya. Setelah mendengarkan pengajaran itu, mulai menggoncang kesetiaan para Murid.  Mereka tidak sanggup menerimanya dan dikatakan bahwa mereka mulai mundur dan meninggalkan Tuhan Yesus. Dapat kita lihat dalam ayat 66 “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”. Kesetiaan akan teruji dengan berjalannya waktu, disini nyatalah kesetiaan para murid bahwa kesetiaan mereka hanyalah sementara. Terbukti ketika ada ujian akan kesetiaan mereka, maka mereka meninggalkan Tuhan Yesus. Sebagai Murid Tuhan Yesus harus tetap setia dalam keadaan apa pun, tetap percaya dan setia pada Tuhan Yesus, ketika kesetiaan kita diuji. Terkadang kita ditegur dengan pengajaran Firman Tuhan  yang keras jangan kita kendor dan mundur, namun membuat kita semakin mengasihi Tuhan.

2.    Kesetiaan Sejati
Kedua belas murid Tuhan Yesus pun di uji Kesetiaannya, Yesus bertanya kepada mereka:  Apakah kamu tidak mau pergi juga?. Merupakan suatu pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh para Murid. Namun dalam kuasa Tuhan, Petrus menjawab pertanyaan Tuhan Yesus dengan luar biasa. Dengan iman yang dimiliki oleh para murid, membuat mereka setia. Karena mereka tau kepada siapa mereka beriman. Jawaban Petrus merupakan pengakuan yang tulus bukan hanya didalamnya ia mengambil perkataan Yesus sebagai perkataannya sendiri (ay. 63 b),  tetapi juga iman yang diungkapkan didalamnya menyatakan kesadaran bahwa Petrus sedang menghadapi pilihan yang “Radikal” ketika hidup dipertaruhkan, tidak ada jalan lain untuk pergi ketimbang jalan mengikut Yesus. Ayat 69 merupakan hal yang  paling mendasar dalam  jawaban itu. Ini bukan sekedar reaksi spontan akan kesetiaan dan kelekatan dengan pertanyaan Yesus yang menantang; ini menyatakan pemahaman yang mendalam pada murid-murid kedalam identitas pribadi yang mereka percayai: kami telah percaya dan tahu bahwa  Engkau adalah yang kudus dari Allah. Kepastian iman merupakan dan terletak pada apa yang iman telah jadikan untuk dipahami sebagai objeknya. Orang percaya tidak berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi tentang Dia yang ia percayai. Melalui iman yang benar dan jelas membawa orang pada suatu tindakan yang tepat dan benar pula. Jika tanpa iman yang benar maka tidak mungkin menerapkan kesetiaan itu. Aplikasi bagi kita orang percaya, marilah tunjukkan kesetiaan kita dalam mengikut Tuhan, bukan karena paksaan, atau karena ada motivasi yang lain, tetapi kesetiaan kita itu ditunjukkan karena kita tahu kepada siapa kita setia. Yaitu Tuhan Yesus Kristus.

                                Ringkasan Kotbah 08 Pebruari 2015 oleh Ls. Nelson Luan

Map