Minggu, 21 September 2014

“Mengampuni Orang Yang Bersalah Kepada Kami”

Matius 6:12; 18:21-35


Menurut saudara mengampuni itu mudah atau sulit ?
Beberapa alasan yang sering dipakai oleh orang yang sulit mengampuni  :
1.    Karena orang tersebut terlalu sering menyakitkan hati kita.
2.    Karena orang tersebut mengulang-ulang kesalahan yang sama.
3.    Karena begitu besar luka yang ditimbulkan orang tersebut.

Sebagai orang percaya, kita dituntut untuk selalu dan bisa melepaskan pengampunan meskipun itu bukan sesuatu yang gampang. Itulah sebabnya ketika Petrus bertanya sampai berapa kali harus mengampuni, Tuhan Yesus menyatakan sampai 70 x 7 kali, yang artinya tidak terbatas.
Hanya dengan memiliki proses KESADARAN maka kita dapat melepaskan pengampunan.

Ada 3 sadar yang harus kita miliki untuk dapat mengampuni, yaitu :
a.    Sadar  Diri
Sadar bahwa diri kita memiliki dosa yang begitu besar.
Dalam teks  Matius 18:21-35 disebutkan tentang hamba  yang behutang sangat besar kepada Raja, besar yaitu 10.000 talenta (v. 24). (1 Talenta = 6000 Dinar, 1 Dinar = upah bekerja 1 hari).   Hamba ini tidak sanggup membayar hutangnya, maka hukumannya ialah ia keluarganya serta harta miliknya akan dijual (v. 25). Betapa besar hutang hamba ini.
b.    Sadar Tuhan
Sadar bahwa Tuhan memiliki kasih yang begitu besar.
Dikatakan bahwa Raja itu bukan hanya membebaskan, yang berarti tidak menghukum tetapi juga menghapuskan, yang berarti menganggap lunas hutang dari hamba tersebut (v. 27). Raja itu memberikan pengampunan karena hatinya tergerak oleh belas kasihan (v. 27).  Betapa besar kasih Raja ini.
c.    Sadar Sesama
Sadar bahwa kesalahan sesama kita tidak sebanding dengan kesalahan kita terhadap Tuhan.
Sangat ironi sekali ketika dikatakan bahwa hamba yang diampuni oleh Raja itu kemudian
tidak bisa mengampuni sesamanya yang berhutang  kepadanya (v. 30). Padahal hutang sesamanya jika dibandingkan dengan hutang dia terhadap raja sangat jauh bedanya (v. 28) (100 dinar).

Dalam teks Matius 6:12 dikatakan : “Ampunilah kami ….dan  seperti kami juga mengampuni….”. Kalimat tersebut  adalah permohonan kepada Bapa di sorga. Ini tidak boleh diartikan bahwa pengampunan yang kita berikan menyebabkan kita diampuni. Iman kita yang menyebabkan kita diampuni, tetapi iman harus dibuktikan dengan maunya kita mengampuni orang lain. Permohonan untuk diampuni kepada Bapa di sorga tersebut didasari dengan suatu tindakan yang lebih dahulu dilakukan yaitu mengampuni sesama.  Kata ‘kesalahan’ adalah ‘hutang’ (Inggris: ‘debts’). Luk 11:4 menggunakan istilah ‘dosa’ (Yunani: Hamartia). Dosa memang adalah suatu hutang (bdk. Luk 7:36-50).

Kasih Allah yang begitu besar ditunjukkan melalui Tuhan Yesus yang mengampuni manusia yang berdosa begitu besar. Dosa manusia sangat besar, mendapat pengampunan yang besar dari Allah melalui kematian Tuhan Yesus Kristus di salib. Hanya orang yang sadar akan dosanya dan sadar akan kasih Allah yang besar ini dapat mengampuni sesamanya. Betapapun besar kesalahan dan dosa sesama tidaklah lebih besar dibandingkan kesalahan dan dosa yang diampuni Tuhan kepada kita.
    “Kiranya Tuhan menolong saudara dan saya untuk dapat mengampuni”

Ringkasan Kotbah 21 September 2014 oleh Pdt. Suwanton
Forum diskusi : facebook : gktjember

Map