Ringkasan Khotbah Minggu, 27 Juli 2014

Bersukacitalah Senantiasa Di Dalam Tuhan
(Filipi 4:2-9)

bisa sedih? Selalu bahagia? Langit selalu cerah? Alkitab tidak mengajarkan yang demikian. Dalam teks kita hari ini, kita melihat beberapa hal tentang sukacita:

1.    Ada sukacita ketika ada perdamaian sejati (vv. 2-3)
    Siapa yang suka huru hara? Pertengkaran? Merusak suasana? Apakah orang-orang ini memiliki sukacita? Namun tidak disangkal bahwa perselisihan bisa terjadi bahkan dalam satu tim pelayan Tuhan. Lalu bagaimana? 
Rasul Paulus mengingatkan: nama mereka telah tercantum dalam kitab kehidupan (memiliki hidup kekal sudah ditebus oleh Kristus) dan mereka sudah mengecap kebaikan Tuhan sehingga mereka melayani Tuhan. Hal ini sudah dibahas oleh Paulus di Filipi 2:1-11 ; teladan Kristus! Seperti pecahan kaca bisa dirubah menjadi hiasan yang indah! Rasul Paulus mengingatkan – jangan kita berjuang utk memuaskan kedagingan kita tetapi mengingat akan kasih karunia Allah. 
Tanggalkan apa yang mengganjal di antara kita sebagai saudara! Ketika damai di tengah kita, sukacita kita menjadi sungguh indah, bukan dibuat-buat! Kita akan menikmatinya!



2.    Ada sukacita ketika ada kesaksian yang indah (vv. 5, 9)
    Salah satu hal yang tidak bisa disembunyikan adalah sukacita ; paling tidak, akan terlihat dari wajah dan tidak jarang juga dalam tindakan. Ini sekaligus merupakan ungkapan iman kita karena kita percaya bahwa Allah telah berkarya dalam kehidupan kita dan Dialah sumber sukacita kita! 
Sukacita ini membawa dampak positif (bagi kita dan sekeliling kita) membuat orang lain merasa diperhatikan, serasa setetes air sejuk di tengah panas terik, dll.         
Sukacita ini bukan hanya dari diri kita sendiri bagi orang lain (v 5) tetapi juga kita belajar dari orang lain (v 9).
    Seorang penjual roti di Jerman merasa terhibur dengan senyum sederhana di tengah begitu banyak wajah pembeli yang cemberut dan tidak ada sukacita! Seorang pengemis merasa dihargai karena sebuah senyum ramah kepadanya. Mari kita bagikan sukacita melalui kebaikan kita kepada orang         lain supaya mereka juga mengalami kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan mereka datang kepada Kristus!

3.    Ada sukacita ketika ada kemerdekaan yang sejati (vv. 6-8)
    Setiap orang memiliki pergumulan dan tantangan dalam hidupnya! Dan tidak jarang yang terasa begitu berat! Di tengah situasi seperti itu – banyak orang kehilangan sukacita dan kekuatan! Kuatir, susah, stress, tidak ada ucapan syukur seringkali menguasai kita! Di sini kita perlu selalu mengingat kembali bahwa Allah kita adalah yang Maha segalanya! Kita tidak atau jangan meragukannya! Maut (musuh terbesar kita) telah dikalahkanNya! (1Kor 15:54-57). Pengharapan dan jaminan kita ada padaNya! Bagaikan pembuatan lempengan metal yang diproses menjadi sesuatu yang berguna, mari kita melihat proses dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita merasa senang tetapi juga sering merasakan susah. 
Dalam keadaan seperti inilah kita perlu melihat rencana Tuhan yang lebih luas, bukan hanya bagi kita. Sehingga pada akhirnya kita bisa melihat dan bersyukur bahwa Tuhan sungguh merancangkan yang baik dan indah bagi kita.

Pada akhirnya, mari kita sehati dengan rasul Paulus mengatakan: Bersukacitalah dalam Tuhan! (v 4) karena karyaNya dalam kehidupan kita, yang telah, sedang dan masih akan dikerjakanNya. Amin!
 
Ringkasan Kotbah, Minggu 27 Juli 2014; oleh : Pdt. Andrew Kusno Habil
Forum diskusi : facebook : gktjember

Map