Ringkasan Kotbah, Minggu 22 Juni 2014

IMAN, PENDERITAAN DAN KEMULIAAN
Markus 8:31-38, Roma 8:17-18, 35-39


Dalam Markus 8:19-25, Tuhan Yesus menunjukkan kuasaNya yang luar biasa, memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan, menyembuhkan orang buta di Betsaida. Lewat muzizat-muzizat itu, nama Tuhan Yesus menjadi populer. Ketika sudah populer, maka tiba waktunya Tuhan Yesus menanyakan kepada murid-muridNya tentang siapa Dia menurut pandangan orang banyak dan siapa Dia menurut pandangan para murid sendiri ? Orang banyak mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah nabi, sedangkan Petrus mengakui bahwa Tuhan Yesus  adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Kata Mesias berasal dari bahasa Ibrani mashiah berarti "yang diurapi". Istilah ini menunjuk pada seorang tokoh yang akan datang sebagai wakil Allah untuk membawa keselamatan bagi umat Yahudi.

Jadi Tuhan Yesus sangat setuju ketika diriNya diakui sebagai Mesias. Setelah pengakuan itu, Tuhan Yesus mulai menyampaikan misi utamanya datang ke dunia yaitu untuk mati di atas kayu salib. (Markus 8:31-32). Misi inilah yang sulit sekali dipahami oleh para murid. Karena dalam pemahaman para murid, tidak mungkin Mesias akan mati, bukankah Dia itu Juruselamat. Kalau Dia mati, maka tidak mungkin Dia bisa menjadi Juruselamat dunia.  Petrus menarik Tuhan Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Tuhan Yesus meluruskan konsep dari Petrus, karena konsep Petrus=konsep Iblis yang menghalangi Mesias mati di kayu salib. Tahukah saudara,bila Tuhan Yesus tidak mati dikayu salib, maka karya keselamatan bagi umat manusia, tidak akan terjadi.

Mari kita merenungkan : mengapa untuk menyelamatkan hidup kita, Tuhan Yesus memilih jalan yang sulit ? Bukankah Dia Tuhan yang berkuasa menyelamatkan hidup kita tanpa harus mati dikayu salib. Mengapa Dia  memilih jalan penderitaan. Sesungguhnya Tuhan menderita dengan tujuan menguatkan iman kita dalam menghadapi berbagai penderitaan di tengah-tengah dunia ini. Tuhan tahu pergumulan kita, kesusahan kita, kesulitan kita, tantangan yang kita hadapi dalam hidup ini. Tuhan ingin agar kita memiliki iman yang militan, seperti tokoh-tokoh di dalam Alkitab.


Berikut ini contoh iman yang militan.
Iman Habakuk : Habakuk 3:17-18: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”

Iman Paulus :“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Roma 8:35). Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
(Roma 8:38-39). Kemuliaan apa yang akan kita peroleh bila kita setia kepada Tuhan sampai akhir ? Paulus berkata di dalam Roma 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”


                    Ringkasan Kotbah, Minggu 22 Juni 2014; oleh : Pdt. Djoni Febrianto


Map