Berilah Kami Makanan Yang Secukupnya (Khotbah 20 Mei 2012)

Berilah Kami Makanan Yang Secukupnya (khotbah tanggal 20 mei 2012) - Keluaran 16:12-13, 22-30; Matius 6:11

Ada sebuah doa yang sudah tidak asing lagi bagi kita, itulah doa Bapa kami. Doa Bapa kami  adalah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Doa ini masih sering dipanjatkan oleh orang2x Kristen pada masa kini. Pagi/sore hari ini, kita akan merenungkan salah satu isi dari doa Bapa kami, yang berbunyi demikian: “ Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11). Mari kita coba pahami, mengapa Tuhan Yesus, berkata : Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya ? Mengapa Tuhan Yesus tidak berkata: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang berlimpah-limpah, agar kami punya persediaan makanan untuk hari-hari yang akan datang. Mengapa minta hanya secukupnya ?

Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan terlebih dahulu bagaimana pemeliharaan Tuhan kepada umatNya Israel selama mereka ada di padang gurun. Diceritakan di dalam Keluaran 16, setiap hari Tuhan menjatuhkan manna /roti dari langit, selama 6 hari berturut-turut. Ketika bangsa Israel bangun di pagi hari, maka nampak sudah ada roti di luar perkemahan. Mereka mengambil roti itu untuk dimakan bersama keluarganya dan ini berlangsung selama 40 tahun, waktu yang cukup lama. Satu bentuk pemeliharaan Tuhan yang sangat luar biasa. Walaupun di padang gurun tidak ada tepung, tidak ada air, Tuhan bisa membuat roti untuk umatNya.
   



Bagaimana seandainya peristiwa ini terjadi di kota Jember. Ketika kita bangun pagi, tiba-tiba di depan rumah kita sudah ada roti yang tersedia, roti bukan kiriman dari Roti Wina, tetapi roti yang langsung dijatuhkan oleh Tuhan dari langit. Saya yakin, banyak orang Jember, yang percaya kepada Tuhan, percaya kpd pemeliharaan Tuhan yg luar biasa. Dikatakan dalam Keluaran 16:4a: “ Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, ….” Hujan roti  mengapa dikatakan hujan roti ? Karena roti yang diturunkan oleh Tuhan, jumlahnya ribuan sesuai dengan jumlah umat Tuhan yang ada di padang gurun. 

Jadi saudara, bagi Tuhan, memelihara hidup kita itu tidak terlalu sulit, amat sangat mudah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus pernah berkata: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:25-26). Jadi kalau burung saja, Tuhan pelihara, apalagi diri kita.

Kembali lagi pada kisah manna/roti dari langit ini. Tuhan berkata kepada Musa, suruhlah bangsa Israel mengambil roti itu secukupnya untuk dia dan keluarganya. Tidak usah terlalu banyak, atau disimpan berhari-hari, pasti roti itu akan busuk dan berulat. Perkataan Tuhan ini sungguh-sungguh terjadi, ketika ada umat Tuhan mengambil roti dalam jumlah banyak untuk disimpan sampai besok, pasti roti itu berulat dan busuk.  Tuhan berkata : ambil saja secukupnya untuk hari ini, besok Aku sediakan lagi, setiap hari Aku sediakan roti yang baru buat kalian.  Nah saudara bila kisah ini, kita hubungkan dengan doa Bapa kami, nampaknya cocok sekali, di dalam doa Bapa kami, Tuhan Yesus berkata : Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Ini menunjukkan bahwa pemeliharaan Tuhan atas hidup kita itu, cukup adanya.
   
Sesuatu yang cukup itu jauh lebih baik dari pada berlebihan. Misalnya masalah makanan. Kita makan durian, kalau makan satu, dua atau tiga biji nggak masalah, tetapi kalau udah makan 1-2 buah durian dimakan sendirian, hati-hati bisa stroke. Ada jemaat kami, gara-gara makan 2 buah durian langsung terjadi pendarahan diotak, dioperasi, habis 80 juta. Duriannya nggak sampai 100 ribu, pendarahannya butuh 80 juta, nggak sebanding. Jadi sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak baik. Makan berlebihan tidak baik, kerja berlebihan juga tidak baik, olahraga berlebihan juga tidak baik, semua yang berlebihan pasti tidak baik.

Selanjutnya bagaimana bila makanan kita terjemahkan dengan rezeki. Apakah Tuhan maunya rezeki itu cukup-cukupan saja  atau pas-pasan saja. Apakah tidak boleh kita ini punya rezeki lebih dari cukup, bahkan apakah Tuhan tidak suka kalau kita ini jadi orang kaya ? Saya yakin tidak demikian. Banyak anak-anak Tuhan, saya lihat sukses dalam binisnya dan akhirnya menjadi orang kaya. Jadi apa sebenarnya yang Tuhan tidak kehendaki ?

Itulah sifat manusia yang tidak pernah puas/ sulit bersyukur atas rezeki yang Tuhan berikan kepadanya. Firman Tuhan dalam Pengkhotbah 5:9 berkata : “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.”.  Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memang seringkali tidak puas dengan rezeki yang sudah Tuhan berikan, terus merasa kurang dan kurang. Akibatnya: manusia sulit untuk mensyukuri berkat yang Tuhan beri, lalu mulai bersungut-sungut, ngomel, bisa juga iri ketika melihat orang lain lebih sukses dari dirinya.

Yang kedua, istilah cukup, bertujuan untuk menghindarkan kita dari keserakahan. Nah saudara berbicara tentang rezeki, sesungguhnya Tuhan itu sudah atur, mana berkat untuk saudara, mana juga berkatnya untuk orang lain. Jadi jangan kita bersaing yang tidak sehat, untuk merebut berkatnya orang lain menjadi milik kita. Kesaksian: kakak saya kerja jualan kabel di pasar genteng, dia jualan di lantai 3. Adik iparnya juga jualan kabel di lantai 1. Adik iparnya ambil kabel di kakak saya. Kakak saya bilang,  ini kabel pasaran harga sekian, ayo kita jual dgn harga pasaran ini, supaya kita sama-sama untung. Eh nggak tahunya, banyak orang beli ditoko adik iparnya, dgn harga yang dijatuhkan jauh dari harga pasaran, Kakak saya kecewa, kok kamu malah bunuh aku dgn cara spt itu, aku bantu beri kamu barang, tetapi kamu tusuk aku dari belakang. Ternyata tujuan dari adik ipar, mau rebut langganan kakak saya.  Nah inilah gambaran persaingan yang tidak sehat. Yang condong menjatuhkan orang lain.

Nah ketika Tuhan itu mengajarkan doa yang berbunyi: Berikanlah kami makanan yang secukupnya, artinya: kita diajar oleh Tuhan untuk berbagi rezeki sama orang lain. Jangan serakah. Kalau teman bisnis kita jatuh, jangan bertepuk tangan, mari ikut prihatin dan berusaha membantu agar dia bisa bangkit kembali.

Saudara perhatikan baik-baik, kisah jemaat mula-mula. . Ingat jemaat mula-mula, mengapa di jemaat mula-mula itu tidak ada jemaat yang berkekurangan, semuanya kecukupan, karena mereka yang kaya rela menjual hartanya dan membagikan kepada jemaat yang miskin sesuai keperluannya, shg di jemaat mula-mula tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang kekurangan. Semuanya berkecukupan. “ Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa  dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” (Kisah 4:34-35). Jadi istilah secukupnya, itu juga mengajar kita untuk bisa berbagi dengan orang lain.

Orang yang tidak pernah merasa cukup, terus merasa kurang dan kurang, padahal berkat yang ada sudah cukup utk hidupnya, orang semacam itu tidak akan bahagia. Berapapun kekayaan yang dia punya, dia tidak akan bahagia, tetapi orang yang dapat merasa cukup dgn berkat yang dia peroleh, lalu mulai memberikan mengalirkan juga pada orang lain, orang itulah yang bahagia. “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkhotbah 5:9), sebaliknya Tuhan Yesus pernah berkata: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."” (Kisah 20:35)

Kembali lagi pada persoalan Manna /roti dari langit. Diceritakan dalam Keluaran 16, selama Enam hari lamanya, bangsa itu dapat mengambil manna utk dimakan, tetapi pada hari ke-7 ketika mereka keluar utk mencari manna, mereka tidak akan menemukannya. Sebab hari ke-7 adalah hari sabat Tuhan.  Tuhan itu baik, pada hari ke-6, Tuhan berikan manna dua kali lipat, spy bisa dimakan sampai hari ke-7, dan anehnya manna itu tidak berulat dan tidak membusuk bila dimakan sampai hari ke-7. Apa artinya ini ? Kalau dari hari 1-6, bila mrk simpan, maka besoknya membusuk dan keluar ulatnya, tetapi ketika hari -6 mereka ambil banyak 2 kali lipat untuk dimakan sampai hari ke-7, mengapa kok tidak busuk ?

Bila ada orang Kristen, pada hari Sabat/hari Minggu tidak ibadah karena sibuk dengan pekerjaan, maka sesungguhnya pekerjaannya itu tidak akan diberkati oleh Tuhan, sekalipun pekerjaan itu rame. Ingat sesuatu yang Tuhan tidak berkati, bisa habis dengan cepat. Tetapi sebaliknya bila kita kita punya berkat itu hasil kerja keras kita dgn tidak melalaikan hari sabat, maka pekerjaan kita itu sekalipun hasilnya tidak banyak, akan awet terpelihara.

Dalam pelayanan, saya mengamati, ada keluarga yang buka toko sampai hari minggu, minggu pagi-siang buka, sore ibadah. Nampaknya rumah tangga kurang begitu bahagia, uang banyak tetapi keluarga kurang bahagia, saya selidiki, ternyata waktu untuk anak tidak ada. Waktu hanya untuk kerja. Komunikasi dengan anak sangat kurang, keakraban sangat kurang, shg anakpun tidak kerasan di rumah, krn orang tua dua-duanya kerja, dan tidak ada di rumah.

Sebaliknya, saya lihat keluarga yang hari minggu pagi mereka ibadah, setelah itu mereka jalan-jalan dengan keluarga mereka, mereka nampak lebih harmonis, lebih segar, lebih semangat dan tidak nampak loyo.

Pemeliharaan Tuhan pd umatNya Israel, sangat jelas sekali. Dijelaskan dalam ayat 35: “ Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.” (Keluaran 16:35 TB), “ Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.” (Yosua 5:12).

Pdt. Djoni F.
Minggu 20 Mei 2012

Map