Info Minggu, 20 Nopember 2016

Berita Kelahiran
Telah lahir Rabu, 16 Nopember 2016 Jake Alvaro Santosa putra dari bpk. Yudhistira Santosa & ibu Lusiana Halim (cucu bpk/ibu Teguh Santosa).
Segenap hamba Tuhan, Majelis dan jemaat mengucapkan selamat berbahagia. Tuhan memberkati.

Donor Darah
Hari/tanggal    : Minggu, 27 Nopember 2016, pk. 10.00 Wib
Tempat   : Ruang Ibu dan anak
Mohon perhatian dan dan partisipasi jemaat
Syarat-syarat bagi pendonor darah :
1. Umur 17-60 tahun
2. Berat badan minimal 45 kg
3. Tekanan darah bawah: 80-90, tekanan darah atas: 110-140
4. Hemoglobin baik pria maupun perempuan minimal 12,5 gram
5. Kondisi sehat (tidak sedang minum obat). Bagi yang punya riwayat sakit Jantung, Diabetes, Hepatitis tidak diizin melakukan donor darah.
6. Konsumsi makanan yang mengandung zat besi, seperti kacang-kacangan,daging merah, bayam,  ikan , & ayam.
7. Sehari sebelum donor: Tidur yang cukup 7 -8 jam, usahakan tidur paling terlambat jam 11 malam.  Tidur yang kurang membuat tekanan darah turun
8. Saat hari H: Sarapan dan minum air sekitar 500ml

Pokok-Pokok Doa
1. Hamba Tuhan, majelis dan pertumbuhan iman jemaat.
2. Jemaat yang berulang tahun, lanjut usia dan sakit:
 Ibu She Lie Nio, Sdri. Sie Sioe Mei, Ibu Lie Djay Yin
 Ibu Lie Djay Ling, Ibu Susilowati & Ibu Ester Muljatiningsih
3. Bangsa dan Negara Indonesia.

Hidup Sebagai Orang Benar (13 Nopember 2016)

HIDUP SEBAGAI ORANG BENAR
(2 Tawarikh 34:1-7, 14-21, 31)


Hidup sebagai orang Kristen diibaratkan seperti titik2 embun yang mem-basahi daun2 di pagi hari. Sama seperti kehadiran titik2 embun yang me-nyegarkan daun2, demikian juga hendaknya kehadiran orang Kristen yang memberikan kesegaran buat orang2 di sekitarnya. Namun bagaimana
mungkin orang Kristen dapat memberikan kesegaran bagi orang lain jika tidak ada kebenaran di dalam dirinya? 

Pertama, Ojo Gumunan. Jgn mudah terpesona. Terpesona oleh keindahan yang sekedar bersifat lahiriah. Orang yang mudah terpesona berpotensi hanya menjadi penonton atau supporter, dan bukan pengikut Kristus. Yosia menjadi raja waktu berusia 8 tahun, usia dimana seorang anak biasanya suka meniru apa yang dilakukan oleh orang2 di sekitarnya. Tetapi tidak demikian dengan Yosia. Dia bertekun mencari Tuhan (ay. 3)! Dia belajar kebenaran selama 4 tahun sebelum melakukan tindakan2 yang radikal namun benar dan penting! 

Kedua, Ojo Getunan. Jangan gampang menyesali apa yang sudah terjadi. Terlebih lagi, menyesal dan hanya menyesal, tanpa tindakan apa-apa. Dengan kata lain, berpangku tangan meratapi nasib! Tidak demikian halnya dengan Yosia! Sebagai seorang anak yang masih sangat muda dan tidak berpengalaman, Yosia bisa saja bersikap menunggu atau bahkan berpangku tangan. Tetapi yang dilakukan Yosia sungguh revolusioner! Dia menghancurkan semua yang berbau penyembahan berhala! Dia melakukannya dengan sepenuh hati! Jangan biarkan keadaan atau masalah atau hal yang tidak benar tetapi sudah sangat membudaya menguasai diri kita! Biarlah kebenaran yang akan mengarahkan langkah dan tindakan kita.

Ketiga, Ojo Kagetan. Jangan terkejut bila hal yang tidak diharapkan terjadi. Dalam bahasa Mandarin, kata “krisis” adalah wei ji. Ada yang menganggapnya sebagai “bahaya” atau wei xian. Tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai “kesempatan” atau ji hui. Bagaimana respon kita terhadap “krisis” yang terjadi dalam hidup kita? Melihatnya sebagai “bahaya” atau “kesempatan” Tuhan bekerja lebih luas dalam hidup kita? Jaman Yosia adalah jaman krisis dalam sejarah Israel (secara keseluruhan) atau Kerajaan Yehuda (secara spesifik). Seperti diketahui, Yosia adalah raja terakhir yang baik. Setelahnya, semua raja yang ada adalah jahat dan akhirnya membawa Yehuda masuk dalam pembuangan. Dalam nubuat berdasarkan Kitab yang ditemukan imam Hilkia, bencana akibat hukuman Tuhan tidak dapat dibatalkan lagi! Yosia memang terkejut hingga dia mengoyakkan jubahnya, tetapi keterkejutan menggiringnya kepada pertobatan dan perendahan diri di hadapan Tuhan. Dan akhirnya penundaan hukuman terjadi. 

Keempat, Ojo Aleman. Jangan manja. Meski hukuman tetap akan dijatuhkan, namun Yosia tidak berhenti untuk mengumpulkan rakyat dan meminta mereka memperbarui perjanjian di hadapan Tuhan (ay. 31). Apakah kita cukup gigih untuk mentaati kehendak Tuhan? Apakah kita cukup gigih untuk mendorong orang lain untuk mengikut Tuhan dengan sepenuh hati? Semoga dengan menghindari sikap2 negatif di atas dan menggantinya dengan sikap2 yang positif, hidup kita menampilkan harapan demi harapan, bahkan di tengah kenyataan hidup yang tidak dapat diduga atau bahkan pahit sekalipun. Selama kita mengikuti Kristus di sepanjang jalan kehidupan ini, selalu ada sukacita, bahkan badai kehidupan pun dapat berubah menjadi pelangi yang menerbitkan harapan baru di dalam hati dan hidup kita. Amin.

Ringkasan Khotbah 13 Nopember 2016 oleh Pdt. Gumulya Djuharto

Map